Virus Nipah bukanlah hal baru dalam dunia kesehatan. Namun, Tak tak menutup kemungkinan, virus nipah dapat menjadi wabah baru jika tidak dilakukan pencegahan secara intensif.
Hipotesa ini didukung dengan ditemukannya 2 kasus virus nipah yang merenggut nyawa di Benggala Barat, India pada awal Februari 2026. WHO dan Kemenkes pun sudah memberikan ‘warning’ terkait bahaya wabah ini.
Apa itu virus nipah?

Setelah setengah dekade lalu dilanda pandemi Covid-19, kini masyarakat dunia kembali dihadapkan dengan wabah baru yang harus diwaspadai dalam bentuk Virus Nipah.
Gejala dan bentuk penularannya pun hampir mirip, dimana para penderita bisa saja tak merasakan gejala apapun namun banyak kasus disertai oleh demam.
Menurut Kemenkes, penyakit Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik emerging yang disebabkan oleh virus nipah yang termasuk dalam genus Henipavirus dan keluarga Paramyxoviridae. Virus ini dapat menular dari hewan ke manusia, khususnya dari hewan kelelawar buah secara langsung atau melalui perantara hewan lain seperti babi dan kontaminasi makanan serta minuman.
Sesuai namanya Virus Nipah pertama kali ditemukan pada medio tahun 1998, dimana peternak babi di wilayah Desa Sungai Nipah, Malaysia dilaporkan terkena wabah infeksi ini. Setahun kemudian, virus Nipah kembali ditemukan di wilayah Singapura setelah negara tersebut dilaporkan mengimpor babi dari Malaysia.
Sejak kejadian di dua negara tetangga kita, virus Nipah kembali dilaporkan terjadi di beberapa negara seperti India, Bangladesh dan Filipina. Meski tidak ditemukan angka pasti korban, wabah Virus Nipah dilaporkan terjadi secara sporadis di Bangladesh dan India sepanjang 2021 sampai 2026.
Lebih Bahaya dari Covid-19
Virus Nipah dinilai lebih bahaya dari Covid-19 karena tingkat kematiannya mencapai 40 – 75 %. Sementara Covid-19 memiliki tingkat kematian sekitar 2-3,4% dari seluruh kasus di seluruh dunia. Dan Hal yang paling mengkhawatirkan adalah WHO menyatakan bahwa vaksin Virus Nipah belum ditemukan hingga saat ini.
Cara Penularan Virus Nipah
- Hewan ke manusia
Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi menjadi salah satu cara penularan yang paling berisiko. Seperti halnya kasus peternak babi di Malaysia, babi yang sakit sangat rentan menularkan virus nipa.
- Makanan terkontaminasi
Produk makanan yang berasal dari dekat habitat kelelawar seperti nira atau aren rentan terkontaminasi virus. Selain itu, Buah – buahan yang kerap digigit kelelawar juga memiliki risiko yang sama seperti pisang atau pepaya.
- Manusia ke manusia
Mirip dengan Covid-19, penularan Virus Nipah bisa terjadi saat terlibat kontak erat dengan orang yang terinfeksi. Kasus ini kerap ditemukan di lingkungan rumah sakit dan rumah dari keluarga penderita virus nipah.
Gejala Virus Nipah :
Penderita Virus Nipah mengalami gejala yang cukup beragam seperti tanpa gejala (asymptomatic), infeksi saluran napas akut (ISPA) ringan atau berat, hingga ensefalitis fatal
Gejala tersebut dibarengi dengan demam tinggi, sakit kepala, batuk, mual muntah dan sesak napas. Pada kasus yang lebih berat, seseorang yang terjangkit virus ini akan mengalami kejang dan koma dalam 24 – 48 jam serta kematian.
Cara Pencegahan
Meski belum ditemukan kasus di Indonesia, Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan edaran terkait kewaspadaan Penyakit Virus Nipah kepada seluruh Kepala Dinas Kesehatan di Indonesia.
Adapun beberapa hal ini bisa kita lakukan untuk pencegahan virus Nipah, antara lain :
1. Jaga kebersihan diri
Cuci tangan secara rutin jadi cara yang paling efektif untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Terlebih jika melakukan aktivitas fisik dari luar rumah atau berinteraksi dengan orang sakit. Gunakan sabun dan hand sanitizer agar tangan lebih higienis dan bersih.
2. Hindari kontak hewan pembawa virus
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, kelelawar dan babi merupakan hewan yang paling berisiko menularkan virus Nipah. Dalam kondisi apapun, usahakan untuk selalu menghindari kedua hewan tersebut.
3. Cuci Sayur dan Buah
Buah – buahan dan sayur rentan terkontaminasi sehingga perlu dijaga kebersihannya. Pastikan buah dan sayur dicuci dengan bersih sebelum dikonsumsi.
4. Hindari mengkonsumsi aren dari pohonnya
Buah nira atau aren merupakan salah satu santapan yang disukai kelelawar saat malam hari. Jika kamu ingin mengkonsumsinya, pastikan cuci dengan bersih dan masak hingga matang
5. Gunakan Masker
Selain mencegah polusi udara, penggunaan masker efektif dalam mengurangi penularan virus seperti halnya Covid-19 dan juga Virus Nipah. Tetapi sayangnya, tidak semua masker bisa menjalankan peran tersebut.
MIUMASK, Masker Premium Pilihan Keluarga
Untuk itulah, pastikan memilih masker yang kualitas bahannyanya baik serta memiliki izin edar dari Kementerian Kesehatan. Salah satu masker yang paling direkomendasikan adalah MIUMASK karena memiliki material 3 ply dengan filtrasi optimal, bebas, breathable serta memiliki sirkulasi udara yang baik.
MIUMASK juga mampu menyaring hingga 99% bakteri (Bacterial Filtration Efficiency) sehingga efektif dalam mencegah penularan virus.
Dengan segudang fitur yang dimiliki, masker MIUMASK berperan penting dalam memutus mata rantai penyebaran virus serta membantu menjaga kesehatan masyarakat Indonesia.
Jadi, apakah kamu sudah siap membantu pencegahan penularan virus Nipah? Lakukan hal kecil dimulai dari diri sendiri bersama MIUMASK. Intinya jangan panik dan tetap waspada sekitar!
Source :
https://www.kemkes.go.id/id/se-kewaspadaan-penyakit-virus-nipah
https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/komplikasi-dan-kematian-akibat-covid-19/

